Yasmin #04

Pusat rehabilitasi tempat Yasmin melakukan fisioterapi berlokasi di kawasan Sentul, Jawa Barat. Merupakan sebuah gedung besar yang terintegrasi dengan rumah sakit. Gedung itu berpekarangan luas, mengikuti kontur tanah di daerah itu yang melembah dan membukit. Yasmin datang setiap hari ke pusat rehabilitasi ini. Baik ada jadwal terapi atau tidak, dia selalu datang, sepulang sekolah.  Selain Iwan, di sini Yasmin banyak temannya. Mbak Ratna, Mbak Erni, Mas Yoga dan lain-lain yang berstatus terapis sudah seperti menjadi kakak-kakak baginya. Demikian pula para pasien, juga menjadi seperti saudara. Mereka ngobrol, bermain, berbagi perhatian dan kasih sayang.

Di saat tidak ada jadwal terapi, Yasmin dan Iwan berjalan-jalan di sekitar pusat rehabilitasi dan rumah sakit itu. Mereka senang melakukan penelusuran tersebut. Dilakukannya sambil mengamati alam, tentunya sambil ngobrol dan kadang-kadang bernyanyi bersama. Iwan yang jago gambar sering mengajak Yasmin duduk di sebuah gazebo dalam taman rumah sakit, dan menunjukkan keahliannya menggambar, sementara Yasmin membaca buku atau mengerjakan PR. Menjelang senja mereka sudahi kebersamaan mereka, lalu pulang ke rumah masing-masing. Begitu terus menerus, sepanjang hari kerja. Di hari libur, lain lagi aktivitas mereka, nonton, jalan-jalan di mal, atau ngongkrong di rumah Iwan atau rumah Yasmin, lebih sering di rumah Yasmin. Dengan demikian kegiatan mereka menjadi seimbang.

Suatu hari, seperti biasa Yasmin dan Iwan duduk berdua di gazebo langganan mereka. Ketika Iwan sedang asyik menggambar, tiba-tiba Yasmin berdiri, menegakkan tongkatnya dan berjalan ke arah sebuah batu besar di dekat gazebo. Iwan menghentikan aktivitas menggambarnya, dia menengok ke arah gadis berambut sebahu itu. Pandangannya bertanya, tapi mulutnya tak melontarkan kata-kata.

“Iwan, kamu nggak bosan menggambar di gazebo ini terus?”

“Habis di mana lagi yang bisa sambil duduk?”

“Di batu ini, misalnya. Yuk sini, kamu bisa duduk di sini, terus menggambar, aku duduk di sisi belakangnya.”

“Betul juga ya, asal nggak hujan saja.”

“Enggak, cuaca cerah nih,” kata Yasmin yang sudah menempatkan pantatnya di atas batu itu.

Iwan mengemasi buku sketsanya. Dia kemudian mengayunkan tongkatnya yang menjadi penguat untuk mengayunkan kaki lemahnya. Itulah cara dia berjalan.

Keduanya terlihat sudah duduk di sebongkah batu besar warna hitam, punggung-pungguan. Iwan tetap dengan buku sketsanya, dan Yasmin dengan sebuah buku cetak, sepertinya buku pelajaran.  Yasmin lebih senang di udara terbuka. Baginya duduk di tempat yang tidak ternaungi atap dan dinding itu menyenangkan karena bisa memandang alam tanpa penghalang.

Berbeda dengan Iwan yang pandangannya terfokus ke buku sketsa, Yasmin sebentar-sebentar melihat rumput, melihat langit, atau melihat tanaman di sekitarnya.  Beberapa kali dilontarkan komentar-komentar lucu tentang alam.

“Wan, lihat awan deh, kurasa bentuknya kayak domba.”

“Namanya juga awan, bisa kayak apa saja, tergantung sudut pandang kita melihatnya,” kata Iwan tanpa melihat ke arah awan yang ditunjukkan Yasmin.

“Haha, kamu ih, lihat ke awannya aja enggak,” rengek Yasmin manja.

Iwan hanya terkekeh lucu, kembali ke gambar setengah jadinya, gambar sebuah rumah.

Kali ini pandangan Yasmin ke arah tanaman semak yang berkerumun dekat batu. Seekor semut hitam berjalan ke arah semak itu. Beberapa saat kemudian semut itu keluar dari semak berjalan sempoyongan. Tak lama kemudian tersungkur di rumput, tak bergerak. Ralat, dia menggerakkan kakinya pelan. Lalu diam, lalu bergerak lagi pelan.  Seekor semut lain melintas, seperti tak memperdulikan temannya yang “sekarat”, masuk ke semak-semak. Tak berapa lama kemudian, semut kedua itu keluar dari semak, lagi-lagi sempoyongan. Astaga! ada apakah di dalam semak itu?

Sambil tetap duduk di batu, Yasmin mencondongkan tubuhnya ke depan, diacungkannya salah satu tongkatnya ke arah semak itu. Tak terjadi apa-apa. Didorong lagi lebih dalam. Tiba-tiba seperti ada kekuatan yang menarik tongkat itu. Cepat-cepat ditariknya lagi tongkat itu. Untung masih bisa ditarik. Tapi apa sih di balik semak itu?

“Iwan…Iwan…ada yang aneh nih,” seru Yasmin tiba-tiba.

Iwan langsung menoleh. “Apaan?”

“Ada apa di dalam semak itu? Kuperhatikan ada dua ekor semut yang keluar dari sana sempoyongan, lalu tongkatku kayak ketarik tadi waktu kumasukkan ke dalamnya.”

“Hah? Eh kamu hati-hati. Coba aku cek.”

Iwan berdiri dan berjalan mendekati semak, dilakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Yasmin, memasukkan ujung tongkatnya ke dalam semak. Dia juga merasakan tarikan itu. Digerakkannya tongkat itu ke kiri dan kanan, menyibak semak setinggi pinggang.  Terlihatlah sebuah lubang, cukup besar untuk dimasuki tubuh manusia dalam keadaan membungkuk. Yasmin merapat ke punggung Iwan, dipeganginya kaus Iwan.

Tiba-tiba tarikan itu semakin kuat hingga membuat keduanya masuk ke dalam lubang. Terguling-guling dalam lubang yang ternyata berukuran cukup besar. Mereka jatuh terduduk bersamaan di dasar lubang atau yang kini mereka lihat menyerupai sebuah gua.

“Yas, kamu nggak papa?” tanya Iwan.

Yasmin meringis sambil memegangi sikutnya, luka tergores. Sedangkan Iwan memegangi bagian kepalanya yang terantuk dinding lubang gua itu tadi. Keduanya melupakan rasa sakit yang harusnya mereka rasakan akibat luka-luka, mereka jadi tercengang melihat gua tempat mereka berada. Begitu luas, begitu indah. Secercah cahaya masuk dari lubang tempat mereka masuk tadi dan dari lubang lain di depan mereka, jauh di depan mereka. Gua apakah ini?

(bersambung)

@SUNGSAM914, 20140110

Yasmin #3

Meskipun mengalami “kerusakan” di sana-sini, tapi Yasmin tetap merasa beruntung, lantaran gangguan syaraf yang dialaminya tidak merusak otak dan jiwa. Baginya kerusakan fisik permanen masih belum apa-apa dibandingkan dengan kerusakan otak dan jiwa. Dengan akal sehat dan jiwa yang kuat, Yasmin yakin akan bisa mengarungi hidup secara mandiri, tidak tergantung orang lain. Itulah tekadnya.

Dia juga bersyukur memiliki orang-orang sekitar yang baik hati, yang mensuport dan menyayanginya. Orangtua tak kurang-kurangnya memberi dukungan moral dan materi untuk mewujudkan kemandirian Yasmin, diiringi dengan dukungan yang sama dari saudara-saudaranya.

Sedangkan pihak-pihak lain, kebanyakan baik. Ada sih yang bikin ngenes, misalnya pandangan kasihan, merendahkan, bahkan ada yang iri, tapi semua itu bisa diatasi Yasmin dengan tangkisan sikap yang kualitasnya di atas rata-rata. Dari yang awal-awalnya dengan menunduk, sampai kemudian sengaja dipandang balik, yang akhirnya dicuekin sama Yasmin.

Yasmin memang berotak encer, dengan keterbatasannya, dia yang tidak terlalu bisa “bermain” menghabiskan waktunya untuk belajar. Dia langganan menjadi juara umum di sekolah. Itulah yang membuat ada saja teman yang iri. Tapi Yasmin tak menggubrisnya, diimbangi dengan sikapnya yang berhati mulia, Yasmin tetap banyak teman. Menyenangkan.

Cita-cita Yasmin tetap lincah kesampaian. Dia melatih tangan kirinya menjadi sangat kuat. Bahkan lebih kuat daripada kekuatan tangan teman-temannya. Mungkin setara kekuatan tangan cowok.  Kekuatan tangan kiri itu bisa membimbing tangan kanan dan kaki-kakinya yang lemah untuk bisa bekerjasama. Jalannya cepat, sama seperti kecepatan jalan manusia lainnya. Dia juga tidak kesulitan naik dan turun tangga. Yasmin bahkan bisa main bowling, bilyard, main yang lain juga, asal nggak harus berlari, bisa lah.

Kalau kata Yasinta, “Kamu lucu ya, merasa untung terus, orang jawa banget.”

Sebenarnya ini mengacu pada lawakan warkop zaman dulu. “Orang Jawa itu selalu untung. Kalau dilempar batu bukannya marah malah bilang ‘aduh untung nggak kena ya.’ Kalau kena: ‘aduh untung kena tangan, nggak kena mata.’ Kalau kena mata: ‘aduh untung satu, nggak dua-duanya.’ Kalau dua-duanya? ‘aduh untung nggak mati'”. (mengenang alm. Kasino).

Kelincahan Yasmin didapat dari fisioterapi yang dilakukan terus menerus. Dilakukannya di sebuah klinik.  Di sinilah juga Yasmin bertemu dengan teman-teman yang sama-sama membutuhkan fisioterapi. Yasmin belajar banyak di sini, baik dari terapisnya maupun dari sesama pasien. Mereka saling menularkan semangat untuk tak putus asa melakukan terapi. Juga saling mengajari strategi-strategi khusus untuk gerakan tertentu. Salah satunya, Iwan. Usia Iwan tiga tahun di atas Yasmin. Dia terserang polio waktu bayi. Hasilnya kondisi yang hampir sama dengan Yasmin. Dari Iwan juga Yasmin mendapatkan strategi menguatkan anggota badan yang kuat, yaitu kalau Yasmin, tangan kiri. Kedua tangan Iwan tidak mengalami apa-apa, sehingga dia bisa menguatkan kemampuan kedua tangannya.

Berada di pusat rehabilitasi bagi Yasmin merupakan kebahagiaan. Di sini dia merasakan bahwa sesungguhnya dia tidak sendirian, banyak orang lain yang juga bernasib sama, menggerakkan tubuh adalah big deal, yang harus selalu dilatih. Pusat rehabilitasi beserta orang-orang di dalamnya menjadi keluarga kedua bagi Yasmin. Terutama adanya Iwan, merupakan penyemangat bagi dirinya. Iwan adalah penyemangatnya. Di tahun-tahun berikutnya, Iwan adalah cinta (monyet) pertamanya. klik next

@SUNGSAM, 20131231

Yasmin #02

Akibat kecelakaan itu (baca: Yasmin #01), Yasmin mengalami beberapa tulang patah pada kaki, berjenis-jenis: tulang paha, tulang kering, tulang pergelangan, tulang jari-jari.  Dan yang parah, juga pada tulang belakang bagian bawah. Yasmin harus menginap dua minggu di rumah sakit untuk berbagai reparasi itu, dan berdiam di rumah nyaris dua bulan untuk penyembuhan.  Penyembuhan? Penyembuhan apa? Oh ya yang patah-patah kemudian menyambung kembali, tapi pergeseran pada tulang belakang dan kerusakan beberapa “helai” syaraf di dalamnya tak mengalami kesembuhan.

Dari keempat anggota badannya (kita masih menyebut kaki dan tangan dengan anggota badan kan ya?) hanya tangan kiri yang kembali sempurna, ketiganya yang lain, mengalami penurunan kualitas. Jadi apa-apa Yasmin hanya bisa kayak dulu pada tangan kiri. Untungnya Yasmin kidal. Hah? Yasmin kidal? Iya! Lho memangnya saya nggak pernah cerita ya? Yasmin dan Yasinta itu sama-sama kidal. Lucu ya anak kembar dua-duanya kidal. Unik!

Akibat kecelakaan itu juga adalah, Pak Kansani, supir itu dipecat sama ayah Yasmin. Ayahnya sangat marah (sambil sedih dan panik) ke Pak Kansani, lalu langsung memecatnya. Yasmin tidak melihat adegan itu, tapi selalu dilaporkan oleh Yasinta.

Yasinta bilang, “Aku belum pernah melihat Bapak semarah itu. Eh belum pernah liat siapa pun semarah itu sih. Marah banget. Suaranya keras dan kasar!”

Yasmin diam, buang muka ke arah samping (waktu itu masih di rumah sakit, jadi posisinya tiduran). Buang muka karena nggak mau nunjukin ke Yasinta bahwa dia berkaca-kaca. Pengin nangis. Pak Kansani kan baik, yang antar-antar mereka ke sekolah dan berbagai kegiatan.

Tiga bulan kemudian, Yasmin menjelma menjadi Yasmin yang berbeda. Segalanya serba terbatas. Dengan berkali-kali fisioterapi (dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian) hasilnya tetap hanya pergerakan normal pada tangan kiri. Otot-otot pada tangan kanan, serta kedua tungkai kaki mengecil. Tidak lumpuh, tapi lemah. Tangan kanan tak sekuat dulu, bahkan hanya bisa dilambaikan sebatas perut. Untuk ngusap-ngusap paha sendiri sih bisa, tapi nggak bisa buat, membetulkan rambut misalnya. Nggak bisa diangkat sampai kepala. Sekali lagi, untung Yasmin kidal. Jadi masih bisa menulis dan ngapa-ngapain yang lainnya dengan tangan kiri tanpa penyesuaian diri yang berarti. Sulitnya, mempraktekkan sopan santun salaman. Kalau yang diajak salaman tanggap dan langsung menyambar tangan lemah itu, salaman berjalan lancar. Tapi kalau tidak, Yasmin harus mengangkat tangan kanannya dengan tangan kiri. Aaah.

Yang paling sulit diterima hati Yasmin adalah keterbatasan kakinya. Dengan kaki kecil tenaga minim itu, Yasmin terlihat sekali dikategorikan orang cacat. Kesal Yasmin menerima kenyataan itu. Di dunia ini seperti ada pembagian dua bidang, “normal” dan “cacat”. Ah kasihan Yasmin…mari kita hilangkan kata “cacat” dalam cerita ini…

Kaki-kaki itu bisa menopang badannya untuk berdiri….sebentar. Kalau lama, jatuh. Tapi untuk berjalan, susahnya minta ampun. Mengayunkan kaki kanan, sepuluh menit lamanya. Lalu mengayunkan kaki satunya lagi, tak mungkin, tak sanggup dia. Sesuatu yang kokoh dibutuhkan untuk berpegangan. Beruntung di dunia ini tercipta teknologi yang namanya tongkat.

Bersama Mbak Ratna, fisioterapis langganan yang seperti tak pernah putus asa, Yasmin sepakat menggunakan dua bilah tongkat jenis forearm crutch untuk berjalan. Ini sudah merupakan hasil percobaan mereka. Berjenis-jenis tongkat dicoba, pakai satu atau dua juga sudah dicoba, nyatanya dua bilah forearm crutch yang paling bisa membuat gerakan Yasmin lincah saat berjalan. Ya lincah!

“Aku harus tetap lincah!” itulah tekad Yasmin dalam dirinya. Yang diterapkan kemudian selama bertahun-tahun.

….bersambung ke sini

@SUNGSAM914, 20131228

Yasmin #01

Manusia paling bahagia di dunia adalah Yasmin. Bahagia apa dulu? Bahagia kan sederhana, punya keluarga yang baik, tinggal di rumah yang melindungi, bisa ganti baju sehari 2 kali, bisa makan sesuai selera 3 kali sehari, mandi bisa kapan saja, tidur cukup, pergi dan pulang berkegiatan bisa menggunakan alat transportasi yang memadai. Semua itu Yasmin miliki.

Orangtuanya harmonis.  Kepemilikan ini makin langka di zaman modern kan? Punya kakak dan adik dalam jumlah yang cukup banyak, 6 orang, ada laki-laki, ada perempuan. Semua baik, mencurahkan kasih sayang ke Yasmin, sebaliknya juga patut dicurahi kasih sayang dari Yasmin. Mereka saling menyayangi. Bahagia, bahagia, bahagia!

Tapi itu dulu, waktu Yasmin masih anak-anak. Beranjak dari usia 10 tahun, masalah mulai mendera. Namanya juga manusia.

Yasmin kembar, kembarannya bernama Yasinta.  Sebenarnya dari lahir, masalah sudah terbayang akan mendera kehidupan mereka kelak, yaitu karena dilahirkan dengan kelainan jantung bawaan. Keduanya punya masalah di jantung. Jantungnya bocor. Dengan aktivitas fisik dan emosi berlebih, keduanya bisa ngap-ngap nggak bisa napas. Muka jadi biru, harus segera dilarikan ke rumah sakit. Yasinta lebih parah daripada Yasmin, mungkin lubang atau tidak terkatupnya elemen di jantung Yasinta lebih besar dari pada di jantung Yasmin. Frekuensi Yasinta yang dilarikan ke rumah sakit lebih besar jadinya. Di rumah sakit, alat yang menyalurkan oksigen ke tubuh jadi langganan keduanya, sekali lagi, ke Yasinta lebih sering.

Ibu Yasmin dan Yasinta adalah seorang dokter. Sedangkan ayahnya berkarier cemerlang sebagai konsultan bidang keuangan. Mereka jatuhnya sebagai orang kaya. Serangkaian pemeriksaan tentu saja bukan hal yang sulit. Kesimpulannya, keduanya bisa dioperasi untuk menutup kebocoran itu. Kesimpulan lebih detail, operasi Yasinta dulu yang lebih parah, karena untuk Yasmin, kebocoran bisa menutup sendiri seiring bertambahnya usia.

Singkat kata, Yasinta dioperasi pada umur 5 tahun. Gangguan jantung pun memudar, bersamaan dengan (betul kata pemeriksaan) tertutupnya juga kebocoran di jantung Yasmin, meski tanpa operasi. Hasilnya, Yasmin dan Yasinta menjelma menjadi anak-anak yang seperti anak-anak lainnya, bebas bermain, bersenda gurau, pintar, dan ceria. Berlangsung terus menerus hingga bertahun-tahun kemudian.

Rumah Yasmin besar dan pekarangannya luas, khas rumah orang kaya. Pagar masuk rumahnya pun ada dua, untuk masuk dan untuk keluar pagarnya beda. Di antara pagar ada jalan beaspal mulus berwarna hitam yang menghubungkan. Ada cabang jalan menuju pintu depan rumah, untuk drop off, dan ada lagi cabang ke arah belakang rumah yang bermuara di pintu masuk paviliun rumah. Paviliun bisa juga kita sebut rumah belajar. Apa saja tersedia di situ. Terdiri dari beberapa ruang berisi meja-meja belajar, ruang lain untuk menyimpan buku-buku berdiri rapi di rak. Jumlahnya banyak dari berbagai jenis buku, untuk menambah ilmu terutama. Apa saja, you name it! Ada juga ruang untuk bermain, mainan anak kecil maupun mainan anak besar. Maklum saja rentang usia kakak-beradik saudara-saudara Yasmin beragam. Mas Bayu, yang paling tua, umurnya berbeda 6 tahun dengan Yasmin dan Yasinta, disusul Mas Indra dan Mbak Indri yang juga kembar, terpaut 4 tahun, lalu Mas Dipo, 2 tahun di atas Yasmin dan Yasinta. Si bungsu, Adin yang bedanya paling jauh dengan usia saudaranya, 6 tahun. Lahirnya setahun setelah Yasinta dioperasi jantung.

Sebuah Jeep merupakan salah satu mobil yang dimiliki keluarga ini. Meskipun banyak mobil lainnya, namun Jeep ini selalu jadi favorit anak-anak di rumah ini. Bisa buat bergelayutan ketika melaju di jalanan dalam pekarangan rumah tersebut. Melajunya disetir oleh supir keluarga mereka, Pak Kansani. Yang berlangganan melakukan ritual ini trio Dipo, Yasmin, Yasinta, yang bergelantungan secara berganti-gantian. Malang tak dapat dielakkan, giliran Yasmin bergelantungan, dia jatuh, parah, terpelanting dan terlindas roda jeep itu sendiri. Yasmin selanjutnya jadi berbeda dari Yasmin yang dulu, di usia 10 tahun.

Manusia paling bahagia di dunia ini adalah Yasmin. Dulu, waktu usianya belum 10 tahun.

….bersambung ke sini

@SUNGSAM914, 20131226